Sabtu, 31 Oktober 2009

Outside Indonesia

In the early 20th century, the angklung was adopted in Thailand, where it is called angkalung (อังกะลุง). The Thai angklung are typically tuned in the Thai tuning system of seven equidistant steps per octave, and each angklung has three bamboo tubes tuned in three separate octaves rather than two, as is typical in Indonesia.

Angklung had also been adopted by its Austronesian neighbours, in particular by Malaysia and the Philippines, where they are rather played as part of bamboo xylophone orchestras. Formally introduced into Malaysia sometime after the end of confrontation, it found immediate popularity.[1] They are generally played using a pentatonic scale similar to the Indonesian slendro, although in the Philippines, sets also come in the diatric and minor scales used to perform various Spanish-influenced folk music.

At least one Sundanese angklung buncis ensemble exists in the United States. Angklung Buncis Sukahejo is an ensemble at The Evergreen State College, and includes eighteen double rattles (nine tuned pairs) and four dog-dog drums.

Angklung History - Angklung - Gamelang Angklung

Gamelan Angklung

In Bali, an ensemble of angklung is called gamelan angklung (anklung). While the ensemble gets its name from the bamboo shakers, these days most compositions for Gamelan Angklung do not use them. An ensemble of mostly bronze metallophones is used instead.

While the instrumentation of gamelan angklung is similar to gamelan gong kebyar, it has several critical differences. First, the instruments are tuned to a 5-tone slendro scale, though actually most ensembles use a four-tone mode of the five-tone scale (an exception would be five-tone angklung from the north of Bali.) Secondly, whereas many of the instruments in gong kebyar span multiple octaves of its pentatonic scale, gamelan angklung instruments only contain one octave, though some five-tone ensembles have roughly an octave and a half. The instruments are often considerably smaller, and hence more portable when used in cremation rituals. The musicians often play in a procession as the funeral bier is carried from the cemetery to the cremation site, in addition to playing music to accompany the ceremony.

The structure of the music is similar to gong kebyar. Jublag and jegog carry the basic melody, which is elaborated by gangsa, reyong, ceng-ceng, drum, and flute. A medium sized gong, called kempur, is generally used to punctuate a song's major sections. And although most older compositions generally do not employ gong kebyar's more ostentatious virtuosity and showmanship, many Balinese composers have created kebyar-style works for gamelan angklung, often featuring dance.

Angklung - Angklung History - Outside Indonesia

Angklung

Angklung is a musical instrument made out of two bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes are carved so that they have a resonant pitch when struck. The two tubes are tuned to octaves. The base of the frame is held with one hand while the other hand shakes the instrument rapidly from side to side. This causes a rapidly repeating note to sound. Thus each of three or more angklung performers in an ensemble will play just one note and together complete melodies are produced. Angklung is popular throughout Southeast Asia, but originated from Indonesia (used and played by the Sundanese since the ancient times).

Angklung History - Gamelan Angklung - Outside Indonesia

Angklung History

The Angklung got more international attention when Daeng Soetigna, from Bandung, West Java, expanded the angklung notations not only to play traditional pélog or sléndro scales, but also diatonic scale in 1938. Since then, angklung is often played together with other western music instruments in an orchestra. One of the first well-known performances of angklung in an orchestra was during the Bandung Conference in 1955. A few years later, Udjo Ngalagena, a student of Daeng Soetigna, opened his "Saung Angklung" (House of Angklung) in 1966 as centre of its development.

In Hindu period and Padjajaran kingdom era, Sundanese people used the angklung to sign the time for prayer. Later, Padjajaran kingdom use this instrument as corps music in Bubat War (Perang Bubat).

Angklung functioned as building the peoples community spirit. It was still used by the Sundanese until the colonial era (Dutch East Indies, V.O.C). Because of the colonial times, the Dutch East Indies government tried to forbid people playing the angklung instrument.

Because it was forbidden to play angkung during this time, the popularity of the instrument decreased and it came to be played only by children in this era.

Angklung - Gamelan Angklung - Outside Indonesia

Kamis, 08 November 2007

Tidak adakah cerita indah di negeri ini?

Ini bukan masalah politik, ekonomi, budaya, kepentingan atau apalah itu namanya, ini hanya suara hati dari diri saya sendiri.

Setiap dzuhur sehabis aku pulang kuliah sebelum aku melaksankan ibadah shalat dzuhur seringkali aku nyalakan computer lalu ku nonton acara televisi lewat TV Tuner ku, sesering aku menyaksikan berita di tiap saluran televise sesering itu pula aku dibuat resah.

Bagaimana tidak, setelah penat disuguhi berbagai macam materi dikelas kini aku dipaksa memakan semua berita – berita criminal yang disiarkan diseluruh saluran televise, entah apa yang sebenarnya ada dalam fikiran para praktisi jurnalistik TV itu, apa tidak ada berita lagi?

Hati ini rasanya ingin berontak, sebenarnya apa sich yang ingin dicapai oleh para pencari berita dilapangan itu? Apa karena sedikit rupiah atau benar-benar tuntutan kerja?

Siang hari disaat matahari tepat ada diubun-ubun kita ya mungkin itu bisa dibilang puncak dari hari yang kita lewati, dengan seenaknya mereka (media) memaksa kita untuk menyaksikan kisah-kisah pemerkosaan, pembunuhan, perampokan dan tindakan kriminal lainnya. Secara manusiawi apa kita akan nyaman? yah setidaknya nyaman dalam pandangan juga fikiran kita, siang hari dimana pada umumnya kita merefresh fikiran kita yang mungkin sudah panas juga dehidrasi, sebelum kita melanjutkan separuh hari yang harus kita lewati, yang ada kita membuat fikiran kita semakin panas saja Jangar” apalagi ketika menonton berita pembunuhan ketika sedang makan siang, apa itu gak bikin orang kehilangan nafsu makannya?

Disatu sisi, media juga masayarakat pada umumnya ingin Indonesia kembali bersinar, tidak ada lagi isu-isu kerusuhan di mata dunia dan ingin Indonesia di cap aman, tapi kan sebenarnya media-media di Indonesia juga yang membuat image Indonesia itu sendiri jadi jelek, ya bagaimana tidak orang tiap hari beritanya dikuasai kriminal sumua, dan biasanya kalu hari ini gak dapet berita pembunuhan pasti berita pembunuhan yang kemaren di puter lagi. Gak kreatif..

Sekecil apapun budget yang dimiliki stasiun TV baik yang baru muncul, yang dah lama bahkan yang mau bangkrut pasti memiliki siaran berita, yang saya tau sich katanya itu salah satu gengsi dari stasiun TV, adu gengsi sich boleh tapi apa kagak gengsi tuh kalo berita yang ditayangin tu semua sama di stasiun TV yang ada, Cuma beda cashing nya aja.

Kalo kaya gitu udah adja cukup satu station TV berita criminal yang ada di Idonesia ini yach apa ke namanya kan yang jelas walau beda bungkus isinya tetep sama.

Banyaknya berita criminal ternyata bukan membuat penontonnya tambah waspada, nyatanya tindakan criminal makin banyak, mungkin pemirsa sekarang udah gak bisa ngebedain antara acara gossip ama berita criminal. Atau mungkin sekarang dah sering artis yang melakukan tindak criminal muncul di acara gossip, juga muncul di acara berita criminal.

Disiarkan atau tidak di TV toh ternyata sekarang aparat lebih sigap, jadi jangan biarkan aparat terbiasa jadi aktris yang hanya beraksi ketika ada reporter yang pengen ikut penggerebekan dan lain sebagainya. Biarkan mereka bekerja professional begitupun dengan anda journalist…

Carilah info yang lebih menarik, sajikan berita-berita yang dapat gairahkan hidup setiap orang yang menyaksikannya, jadilah sumber insfirasi baik untuk khalayak, pemerintah masayrakat luar negeri bahkan media lain, akhirilah budaya plagiat.

Tidak adakah cerita indah di negeri ini?

Sabtu, 20 Oktober 2007

REUNI AKBAR ILMIDA 2007 ? (-sumpeh loch ni akbar?-)


Assalamu’alaikum

Reuni akbar lagi-lagi deserukan oleh ilmida, kali ini yang jadi yang megang acara ga jauh beda ma orang-orang yang udah biasa menggembor-gemborkan reuni yang seperti biasanya, ya siapa lagi kalo bukan FM alias Febri Maswandi Al-Good Lines.


-ILMIDA-,-REUNI-, ah dah ga aneh kalie… emang tiap tahun isu itu kan dah rutin kita denger tiap kali kita libur semester, eN dah ga aneh kalo yang dateng Cuma nak-nak GL ma nak-nak JeKaTe adja…


Eit tapi menurut info yang dapat dipercaya kali ini katanya sich beda, kalo ga salah denger saking dianggap penting eN akbarnya REUNI kali ini, pihak yayasan menyiapkan waktu khusus nyampe acara reuni ini di masukin ke agenda yayasan –katenye sich-.


Ga tau lah… aku juga memang bingung dengan fenomena ini, ilmida yang seharusnya bersatu saling membantu tampaknya dilapangan seperti saling memojokan satu sama lainnya bahkan kini terlihat makin pecah dengan adanya blok eN kelas-kelas yang gak begitu jelas. -eit itu menurut kacamataku loch-


“Ikatan Alumni Darul ‘Amal” kalo diliat dari judulnya sich kita nich yang statusnya bukan lagi peserta didik dari Ponpes, Sma, Smp Terpadu Darul ‘Amal tetep diiket menjadi saudara…. -TAPI KO YANG MENDOMINASI ILMIDA NICH CUMA NAK YANG KULIAH ADJA SICH?- eit lagi-lagi tu cuma dalam kacamataku loch


Kasian saudara kita yang belum beruntung dong yach, kalo ternyata ikatan ini tidak begitu memperhatikan nasib saudara kita yang tidak kuliah, trus mereka juga yang beruntung dan menjadi tenaga pengajar alias USTADZ/USTADZAH sepertinya menjadi kelas baru yang lebih ekslusip di ilmida ini -atau jangan-jangan yang udah nikah dianggap keluar kali yach dari ilmida-


Selain reuni katanya sich event ini juga bakal dimanfaatin buat MUBES alias musyawarah besar, -wah asyik nich- ga tau juga sich apa ini kemajuan atau awal perpecahan-.


Ya setidaknya dalam MUBES nanti ada beberapa hal yang harus kita pertanyakan juga permasalahan yang membutuhkan pemikiran serius dari berbagai pihak termasuk bahan pikiran yayasan .>

–ya iyyalah masa yayasan mo enaknya adja, alumni yang yang bagus dipungut tapi alumni yang kurang beruntung ko “dilupain gitu adja”, padahal masalah kemampuan aku liat ga begitu beda tapi kesempatan yang dikasih yayasan yang membuat kemampuan mereka itu semakin jauh eN berbeda –


Ilmida dalam kacamata ane sich kaya gini:

- Ilmida Jakarta terlihat begitu egois dengan event-event yang tidak melibatkan Ilmida dari wilayah dan kelas lain –ya iyyalah orang kita paling deket ma sumber keuangan, eN anggotanya kan paling buanyak, para politikus lagi di kampusnya… -OH YACH…HEBAT ENTE…..-

- Kepengurusan dan administrasi Ilmida tampak jelas tidak professional –kamarana atuh nya, anak-anak nu sok barangga mengenalkan dirinya sebagai ORGANISATORIS-

- Kesenjangan antara Ilmida NGANGGUR, Ilmida MAHASISWA, Ilmida BURUH, Ilmida ASHABUDAR, Ilmida USTAD juga Ilmida NIKAH itu harus segera ada titik temunya. –eit ga bisa donk ah, kita dah beda level man….- MAKSUDNYA?-

- Prilaku juga kostum Ilmida ketika mengunjungi pondok DA. –No Coment dech Bosss tapi kata Om Tukul kan “Tong Ningali Buku Sekedar Tina Bungkusna Wungkul” but up to you dech boss-

- Program juga kegiatan kurang begitu greget en rutin juga kurang begitu mengena bagi kita selaku alumni, yang sering kedenger Cuma reuni & reuni adja, eN tu juga terlihat hanya kegiatan local, maksudya bukan plur ilmida tapi hanya segelintir ilmida dari blok tertentu adja. –jadi mo bersaing nich? Ok… kita ladenin kalo buat kemajuan DA… tapi kalo Cuma mo nampang alias CARMUK di depan pimpinan duch sowry ane ga mo ikut-ikutan dech, ane ngalah dech kalo cuma cari muka-

Udeh dulu ye SaHabat, laen kali kita sambung lagi. Ni Cuma unek-unek ane adja… eN mungkin ini cuma asal nulis adja… lumayan kan blog kita jadi rame ada tulisannya ga polos adja “Apa Kata Dunia” kalo Blog SaHa’05 isinya Cuma no HP adja….


kalo mo coment nambah ide, ngasi tulisan atau complain sok adja isi kolom comentnya atau bisa juga kirim e-mail ke dans_cakeup@yahoo.com / dzolih@plasa.com juga jangan lupa kunjungi aku di http;// ramdan-shalih.blogspot.com

Wassalamu’alaikum wr.wb

Save SaHabat at your Hart. Yach.. yach… yach…, yach gito!

Powered By Blogger